Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2013

Selamat Datang Desember-ku; Kamu. Semoga Tanpamu!

Pagi ini tak ada yang lebih menyengat dari ingatan, kecuali November yang tanpa sadar telah angkat kaki dari tahun 2013 yang suka-cita. Aku terlalu memikirkan bagaimana aku akan bisa menjalaninya denganmu--dengan kecintaan yang menyimpang dari awal yang meski tanpa perjanjian. Rerasanya ada pengkhianat di sini. Bersama kita. Dan itu aku. Setelah mendampingi sendiri jatuh-bangunnya semangat hidupku kala lalu, kala tidak terwujudnya tekad besarku. Kala jalan-jalan di keterpurukan kuterjali seonggok diri. Argh...dan itu sulit sekali penempatannya antara diingat dan dilupakan. Namun dekat-dekat ini, lihatlah! Aku tak sendiri, hey. Aku bersama sepasang tangan Desember. Aku bersama orang yang seharusnya kuhindari;kamu! Bagaimana mungkin aku tak menyebut diriku dengan semua sesumpah yang patut? Bagaimana aku bisa menerima hukum alam, mitos, atau mungkin adat yang terlalu umum nan menggelikan? Saat yang berhasil menggenggamku bukanlah orang yang sesungguhnya wajar kuterima. Orang yang...

PUISI-Kasih Bersekat

KASIH BERSEKAT oleh Yuli Listiyana Malam melambai Deru rindu mengikis kalbu Tak ubahnya dikejar goda Tiada dua Jarak menyekat mata Bertanam kasih menggelora Tiada pupus Cinta mengganda Angin mengurai Tawa terikat Rindu melekat erat Kasih bersekat Ingin kupeluk Memagut hati Lepas ikat tawa Sayang, harus menunggu Adakah engkau meratap malam Sama jua terkikis rindu Mimpi jumpa bersayang-sayang Sayang saja harus menunggu Segala tabah, menanti pagi Harap bulan tak berkhianat Pinta bintang tiada tuba Janjikan engkau jumpa 18 Maret 2013

Puisi-Kau Padamkan Lentera Amor

Kau Padamkan Lentera Amor Oleh: Yuli Listiyana Lembayung syamsu mengait biru Lara menitis ranggas serunai Kuntum bintang meronta Bengis bulan bertuba Alam murka Ini gelap menjerembakan Oleh buah padam lentera Secawan kasih kau sepai Tali atma kau cerai Tanpa sejumput belas seringai Jubah putih memerah Lumur kasih bersimbah Separang murtad mengurutnya Ditebas buah cintanya Dengan air kuyup menggedor Kau padamkan lentera amor Sungguh geruh seonggok nadi Terkulai hampa disaksi cemani Busuk lakon picikmu Penuh hujah terpalu Hey, dia ibumu! Yogyakarta, 13 April 2013

Puisi-Akulah Roh Penantian Cintamu

Dengarkan apa-apa yang kau jangkau dari cecuapku Wahai yang sedang kucinta walau menakjubinya Aku tak pergi dari kebungkukkan diri menantimu Tetapi tak tuju pada laku perindu Sebab aku berlabuh, yang tiada menambatku Kemarin, kudengar hatimu tak teringinkan Karenanya engkau membuta piarakan cinta Bergidik pada tulusku Tetapi cinta, yang paling buatku sangat kamu Karena sekat pembatas apa yang tiada ditembus oleh cinta? Dan segala geli dan jijik bagaimana yang dirasa oleh cinta? Lalu engkau, yang cintanya demikian perwira, Kepada belaian tembang luka-luka, jua dia Di gelagat dada, engkau perwira, perwiralah Terjali lagi segala keras-kaku pertahanannya Tahan sesebab mual-mual sabarmu Yang dengan dia, janganlah kau muntahkan Kemudian buang pandangmu padaku Karena sampaimu pada saat di kekubangan jiwaku, Kepatah-patah-hatianku, Tetungguku, dan harap-harap berpulangmu; aku Menjadi roh penantian lama-se-lama-nya Memusarai kamu Yogyakarta, 24 Agustus 2013 By Yul...