Dengarkan apa-apa yang kau jangkau dari cecuapku
Wahai yang sedang kucinta walau menakjubinya
Aku tak pergi dari kebungkukkan diri menantimu
Tetapi tak tuju pada laku perindu
Sebab aku berlabuh, yang tiada menambatku
Kemarin, kudengar hatimu tak teringinkan
Karenanya engkau membuta piarakan cinta
Bergidik pada tulusku
Tetapi cinta, yang paling buatku sangat kamu
Karena sekat pembatas apa yang tiada ditembus oleh cinta?
Dan segala geli dan jijik bagaimana yang dirasa oleh cinta?
Lalu engkau, yang cintanya demikian perwira,
Kepada belaian tembang luka-luka, jua dia
Di gelagat dada, engkau perwira, perwiralah
Terjali lagi segala keras-kaku pertahanannya
Tahan sesebab mual-mual sabarmu
Yang dengan dia, janganlah kau muntahkan
Kemudian buang pandangmu padaku
Karena sampaimu pada saat di kekubangan jiwaku,
Kepatah-patah-hatianku,
Tetungguku, dan harap-harap berpulangmu; aku
Menjadi roh penantian lama-se-lama-nya
Memusarai kamu
Yogyakarta, 24 Agustus 2013
By Yuli Listiyana
Wahai yang sedang kucinta walau menakjubinya
Aku tak pergi dari kebungkukkan diri menantimu
Tetapi tak tuju pada laku perindu
Sebab aku berlabuh, yang tiada menambatku
Kemarin, kudengar hatimu tak teringinkan
Karenanya engkau membuta piarakan cinta
Bergidik pada tulusku
Tetapi cinta, yang paling buatku sangat kamu
Karena sekat pembatas apa yang tiada ditembus oleh cinta?
Dan segala geli dan jijik bagaimana yang dirasa oleh cinta?
Lalu engkau, yang cintanya demikian perwira,
Kepada belaian tembang luka-luka, jua dia
Di gelagat dada, engkau perwira, perwiralah
Terjali lagi segala keras-kaku pertahanannya
Tahan sesebab mual-mual sabarmu
Yang dengan dia, janganlah kau muntahkan
Kemudian buang pandangmu padaku
Karena sampaimu pada saat di kekubangan jiwaku,
Kepatah-patah-hatianku,
Tetungguku, dan harap-harap berpulangmu; aku
Menjadi roh penantian lama-se-lama-nya
Memusarai kamu
Yogyakarta, 24 Agustus 2013
By Yuli Listiyana
Komentar
Posting Komentar
Setiap komentar adalah apresiasi. Terima Kasih