Pagi ini tak ada yang lebih menyengat dari ingatan, kecuali November yang tanpa sadar telah angkat kaki dari tahun 2013 yang suka-cita. Aku terlalu memikirkan bagaimana aku akan bisa menjalaninya denganmu--dengan kecintaan yang menyimpang dari awal yang meski tanpa perjanjian. Rerasanya ada pengkhianat di sini. Bersama kita. Dan itu aku.
Setelah mendampingi sendiri jatuh-bangunnya semangat hidupku kala lalu, kala tidak terwujudnya tekad besarku. Kala jalan-jalan di keterpurukan kuterjali seonggok diri. Argh...dan itu sulit sekali penempatannya antara diingat dan dilupakan. Namun dekat-dekat ini, lihatlah! Aku tak sendiri, hey. Aku bersama sepasang tangan Desember. Aku bersama orang yang seharusnya kuhindari;kamu!
Bagaimana mungkin aku tak menyebut diriku dengan semua sesumpah yang patut? Bagaimana aku bisa menerima hukum alam, mitos, atau mungkin adat yang terlalu umum nan menggelikan? Saat yang berhasil menggenggamku bukanlah orang yang sesungguhnya wajar kuterima. Orang yang seharusnya kukirimkan kabarnya pada yang lain. Dan satu-satunya orang yang kukecualikan dalam 'witing trena jalaran saka kulina'.
Ini terlambat. Semua yang kuperkirakan bisa meluberkannya dalam cecakup lain pun tak bisa. Aku tak bisa tak merindukan sepasang tangan Desember-mu. Aku terlalu biasa dengan kehangatan di telapaknya. Apa-apa yang meredakan kegelisahanku dalam hal apapun. Termasuk melangkahi ruh kekataku sendiri. Aku mungkin memang tak pernah berjanji untuk tidak mencintaimu. Tapi aku pernah melucu, yeah, dengan ketakmungkinan bersamamu. Atas dasar hati yang menyadari adanya sepotong hati yang lebih menjanjikan sebuah kepantasan untukmu. Itu saja.
Tapi semua itu kelu-biru. Kamu mengatakan ketenangan malaikat yang kupatuhi. Yang tak bisa benar-benar kuhindari. Dan sekarang, aku menjadi makhluk pengisap hati atau semacamnya. Aku merenggut hatiku sendiri;sahabatku.
sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQJrtZd8JFcyTgvbJlY39IF0DsO_60Mv276ZZFdsGL0zxybrBVo
Well, mungkin aku masih berusaha melalaikan kecintaan, dan segala keterikatan ini. Maaf, kita terlarang. Dengan keterbiasaan yang bagaimana pun, etisnya aku harus membentengi rasa, jiwa, dan steman sepermainannya. Aku muak bersama kepura-puraan tentangmu yang kusampaikan padanya. Aku terancam mericuhi persahabatan!
Kembali ke topik Desember, Desember yang kumunajati penuh dengan keterbaikan, lebih-lebih keputusan bijak yang bisa meneguhkanku. Desember yang akan mendewasakanmu, setahun di atas kulit kepalaku--yang kau jadikan daratan ternyaman kala kau sedang ingin menjadi seorang pengerti. Ahh...semoga Desember tak menyajikan hal-hal semcam itu. Apapun--yang tentang kenyamanku dengan sesuatu yang ambigu.
Sumber gambar: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT2EeLcg4FVdXOeMbHab80JpTh7VaTquPKASxfUJrV290G2PUrj
Yogyakarta, 01 Desember 2013
06:17 a.m WIB
Komentar
Posting Komentar
Setiap komentar adalah apresiasi. Terima Kasih