Langsung ke konten utama

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!!
Judul : Bunga dan Cinta
Penulis : Yuli Listiyana, dkk.
Penerbit : Panji Publishing
ISBN 978-602-13015-38-1
Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm

Sinopsis
...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri....
Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku
***

Kontributor:
AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI |
AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI |
ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM |
ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI |
DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD |
INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH |
IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG |
KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH |
MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH |
NAJWA EVITA | NISAUL LAUZIAH | RATIH FEBRIAN K | REREIN|
SENJA RIN | SHELLY PRATIWI NINGSIH | SILVIANA MAYA |
TRI HARTATI | UKHTYAN| VINDA ANDRIANA | VIOLIN JM |
YULI LISTIYANA | SENAR SURYA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...