Selalu
kupikir bahwa aku tegar—hari-hari tak berperi kehatian pun...jangan tanyakan
bagaimana aku bisa melaluinya! Bersama sejuta perasaan yang mengubahku menjadi
mahluk moody, kupikir tak cukup susah
berperan sebagai yang periang. Menggandakan diri pada situasi tertentu pun
sekarang rasanya seperti membalik telapak tangan. Terlalu mudah. Entah
siapa—yang jelas aku telah diajarkan cara tidak menjadi diri sendiri. Bukan
atas keinginan privasi. Cukup sadar!
Aku
tak pernah menyangka ‘kan begini—aku tahu seberapa besar konsekuensi yang akan
kuterima setelah prosesi mengharapkanmu benar-benar menyeriuskan ini. Bukan
sembarang meninggali hati. Hingga meludahi yang tak terterima. Aku tak pandai
menyakiti hati, lebih-lebih hatimu. Namun terkadang, seberapa pun marahnya
aku—memasa bodohkan pinta-pintamu malah mericuhi hatiku sendiri. Aku tak pernah
sanggup. Kapan pun. Terlalu sulit menyakitimu. Walau begitu mudah sebaliknya.
Sebegini....
Saat
engkau pergi—tidak benar-benar dalam artian tak di sisi lagi memang. Lebih
jauh. Kamu tahu, aku hampir tak mengenalimu dalam beberapa waktu sekarang. Kamu
tidak pernah salah jika tak seperti dulu lagi. Benar-benar tidak. hanya aku
yang teramat memekaimu. Berlebihan! Sampai harus menjadi yang paling merasakan
perubahanmu. Bukan dirimu sendiri. Dan hati kita, terlalu neka. Tersekat dalam
ribuan simpang. Dan salah dari kita tersesat. Aku tahu, kamu yang tak bisa
kembali. Melupakan jalan pulang.
Dan
tak ada lagi yang tersisa—sebekas napasmu yang kusimpan jauh-jauh hari entah
bagaimana caranya raib. Bukankah aku tak meminta lebih?
Hatimu—dirimu—jiwamu—hah, kurasa yang begitu terlalu berlebihan. Mengingat aku
bukan apa-apa, dan seterbiasa mungkin. Dan hati—aku masih mencoba mengatakannya
utuh—sementara. Tak melulu ini menjadi pasti. Lalu aku benar-benar sama sekali
tak terluka. Aku hanya berusaha. Tidak dengan yang kurasai...cukup!
Selalu kupikir bahwa
aku tegar
Aku tak pernah
menyangka kan begini
Dan saat engkau tak
di sisiku lagi
Baru kurasakan arti
kehilangan
Ingin kubicara
Hasrat mengungkapkan
Masih pantaskahku
bersamamu
Tuk lalui hitam putih
hidup ini
Saat engkau pergi
tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang
tersisa
Dia dia dia tlah
mencuri hatiku
Dan saat hari di mana
kau tinggalkanku
Kukira semuanya kan
baik-baik saja
Dan kini baru
kusadari semua
Dia dia dia tlah
mencuri hatiku
Ingin kubicara
Hasrat mengungkapkan
Masih pantaskahku
bersamamu
Tuk lalui hitam putih
hidup ini
Saat engkau pergi
tah kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang
tersisa
Dia dia dia tlah
mencuri hatiku
Ingin kubicara
Tuk lalui hitam putih
hidup ini
Saat engkau pergi
tah kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang
tersisa
(Ingin kubicara
Hasrat mengungkapkan
Masih pantaskahku
bersamamu
Tuk
lalui hitam putih hidup ini)
Saat engkau pergi
tah kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang
tersisa
Dia dia dia tlah
mencuri hatiku
Dia dia dia tlah
mencuri hatiku
tlah mencuri hatiku
Dia...
La, yang meminta syair ini menjadi teman tidurku dua malam terakhir. Sebuah
lagu dari Fatin, yang aku sendiri sempat mengatakan alasan mengapa dia;kamu;La
memintaku mendapati ini—adalah pujaanmu yang ahh...aku akui secantik Fatin
sendiri. Aku hanya mencandaimu memang. Dan tadi aku telah mengungkapkannya
padamu—bukan, bukan. Bukan perasaanku...hanya seberapa aku jatuh hati pada lagu
ini. Sebuah lagu dari yang terkasih—ehm, kukasihi. Sebuah lagu yang merealita.
Dari La, dan ‘Untuk La’.
Yogyakarta, 20 Januari 2014
20:29 WIB on my leppy
Aduh yang warna kuning apa itu mbak? Sayang sekali gak kebaca loh. kecuali di blok dulu. mungkin bisa diganti warnanya :)
BalasHapusWah nggak kbca ya, makasih ya mbk udah ksih tahu. Itu lirik lagunya Fatin Dia Dia Dia. Terima kasih juga sudah mampir. :)
Hapusiya hhe, ini sudah kuedit. terima kasih apresiasinya. :)
BalasHapus