Langsung ke konten utama

Aku Rapopo



Aku Rapopo

          Haruskah diam lebih lama? Menunggu keraguan semakin berdetak pada hidupku? Hanya untuk satu-satunya jalan menyakiti diri sendiri. Aish, buat apa mendinginkan orang yang jelas-jelas membakar kepalanya sendiri? Buat apa mengorbankan seperempat dari usia sekedar untuk menyetiakan cinta—pada seseorang yang sebenarnya memang belum tepat untuk kita? Aku tahu sebagaimana cinta sejujurnya harus berpikir. Adalah apa yang mampu aku lakukan untuk cinta, bukan sebaliknya. Tapi caramu memaksakan semuanya terlalu memengaruhi keputusanku akhir-akhir ini. Dengan siapa selazimnya aku bertahan? Kamu yang kelu atau dia yang kuakui nyaris menggambil sepotong hatiku sekarang?.
          Sekali. Dua kali. Menginvestigasikannya berdua denganmu terkadang masih cukup menenangkanku. Entah aku membual apa pun agar kau akhirnya menganggap aku ada. Semacam terlalu memaksakan, dan kuakui aku terlalu posesif. Berbeda bagaimana aku harus menertawakan diriku sendiri untuk dia. Aku cukup tertarik. Hanya aku terlalu sadar ini dunia. Segala macam kemungkinan dengan dia terlalu ambigu bila kuperkirakan dengan keadaan. Sungguh sejak saat bangku di kiriku tak berpenghuni—suaranya yang bagai menggantung dekat-dekat telinga, kurasa keberadaan itu beramunisi kuat untuk merubah segalanya. Bukan aku yang amat mudah mencintai, namun dia juga pantang dipersalahkan!
          Kau pun tahu. Tak satupun judul entri di blogku sejauh ini yang menyudutkannya menjadi pokok pikiran. Aku tak mudah menyakiti, La. Boleh jadi sandiwaraku di kelas selama ini tak pernah benar-benar melenakanku. Jika kau ingat, aku pernah mengatakannya padamu: “Aku mungkin tak akan pernah mencintai orang yang kukatakan pada yang lain aku mencintainnya.”. kau menatapku hening. Tak lama, dan balasanmu menjadi cambuk untukku yang secara tak sadar mulai lebih dari bisa berpura-pura: “Kau menghabiskan waktumu untuk tak mau tahu dengan sesuatu yang aku yakin suatu saat akhirnya akan kau kejar!”. Mulai hari itu, sulit menerima kenyataan jika Tuhan membuktikan kata-katamu, La. Hanya desau keraguan yang terkatung-katung—dan aku masih mengatakan: “Tidak!”.
          Aku bingung apakah aku sedang dipermainkan atau mempermainkan. Rasanya denganmu sekarang kurang bisa membuatku berbuat hal-hal gila semacam dulu. Lima kali sehari aku mengetwitt betapa bahagiannya keeratan kita—status-status Facebook yang lebih tak berbobot hanya untuk menunjukan rasa itu ada, lebih-lebih jika kau membuka obrolan kita. Bahkan aku mulai setengah hati menginterogasimu tentang tuduhan-tuduhanku. Rasanya denganmu sekarang seperti telur asin tak bergaram. Hambar, dan sama saja dengan butiran telur biasa lainnya. Tapi rasa bersalah kadang kala menghampiriku sewaktu-waktu. Bagaimana aku menyambut hampir seluruh dari godaan yang lain-lain tentang hubunganku dengan dia.... kau terdiam dan berbeda dengan yang lain, tak tau pasti apakah sejujurnya kau menyimpan kekesalanmu atau maaf, kau memang tak mudah mendengar. Tak bisakah kau katakan padaku yang sepastinya? Ya atau tidak. dan aku tak perlu merasa kau permainkan atau menyakitimu.
          Tak tau pasti apakah kau mengingatnya atau lupa, ada yang pernah mengatakan perasaanku secara tak sadar: “Rerasanya kau malah lebih kelihatan mencintainya, bukan dia.” ‘nya’ itu kamu, La. kau tahu, betapa aku menngapresiasi lebih tanggapan itu? kau terlalu dekat denganku. Ribuan prediksi teman-teman tentang diriku dan dia pun seperti tak pernah ada. Sungguh tak terasa. Seandainya kau lebih mendengarkanku, untuk berdiri dari diammu, ahh aku lupa dia juga pendiam, tak jauh darimu—tapi yang kumau hanya kau yang akhirnya bicara. Tentang hatimu yang sesungguhnya. Dan aku tak perlu menunggu seperti jemuran yang seabad tak terangkat. Panas-dingin, hujan-badai kulalui percuma.
          Dan jika hari ini aku harus memutuskan, juga menerima keputusan, apapun, sepertinya lebih baik tak memilih kalian berdua dan melapangkan hatiku atas keputusanmu dan dia. Buat apa mengejar hal yang menyakiti diriku sendiri? Yeah, itu denganmu. Dan untuk apa menunggu orang yang tak berani memutuskan? Apa aku harus bertahan, dan mati menunggu? Well, ini konsekuensi jika aku memilih dia. Hidup terlalu sayang sekedar dilewatkan dan ditukarkan dengan seonggok cinta masa muda. Hidupku butuh perjuangan. Hidupku butuh imbalan.
          Terima kasih telah singgah di sampingku, La. walaupun tidak untuk menetap, dan sejujurnya hatiku bukan juga warung kopi.
          Terima kasih telah mengangkatku dari mimpi buruk, walau akhirnya kau gantungkan juga. Sesungguhnya aku yakin ini adalah cara Tuhan mengebalkan diriku yang rapuh.
          Terima kasih jika esok akhirnya kau putuskan. Apapun, kau punya asasi untuk itu. Pabila ‘ya’, sungguh tak dapat kubayangkan bagaimana aku akan melewatinya lebih lama denganmu, aku akan sangat berbahagia. Semoga. Namun boleh jadi ‘tidak’, dan aku tak ‘kan memaksa atau melampiaskan diriku dengan hal-hal gila yang mendahului kuasa Tuhan. Cukup percaya ini adalah cara Tuhan mempersiapkan diriku untuk masa depan yang lebih baik.
          Aku rapopo.1


1aku tidak apa-apa.
sumber gambar:

Komentar

Posting Komentar

Setiap komentar adalah apresiasi. Terima Kasih

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...