Aku Rapopo
Haruskah diam lebih lama? Menunggu
keraguan semakin berdetak pada hidupku? Hanya untuk satu-satunya jalan
menyakiti diri sendiri. Aish, buat apa mendinginkan orang yang jelas-jelas
membakar kepalanya sendiri? Buat apa mengorbankan seperempat dari usia sekedar
untuk menyetiakan cinta—pada seseorang yang sebenarnya memang belum tepat untuk
kita? Aku tahu sebagaimana cinta sejujurnya harus berpikir. Adalah apa yang
mampu aku lakukan untuk cinta, bukan sebaliknya. Tapi caramu memaksakan
semuanya terlalu memengaruhi keputusanku akhir-akhir ini. Dengan siapa
selazimnya aku bertahan? Kamu yang kelu atau dia yang kuakui nyaris menggambil
sepotong hatiku sekarang?.
Sekali.
Dua kali. Menginvestigasikannya berdua denganmu terkadang masih cukup
menenangkanku. Entah aku membual apa pun agar kau akhirnya menganggap aku ada.
Semacam terlalu memaksakan, dan kuakui aku terlalu posesif. Berbeda bagaimana
aku harus menertawakan diriku sendiri untuk dia. Aku cukup tertarik. Hanya aku
terlalu sadar ini dunia. Segala macam kemungkinan dengan dia terlalu ambigu
bila kuperkirakan dengan keadaan. Sungguh sejak saat bangku di kiriku tak
berpenghuni—suaranya yang bagai menggantung dekat-dekat telinga, kurasa
keberadaan itu beramunisi kuat untuk merubah segalanya. Bukan aku yang amat
mudah mencintai, namun dia juga pantang dipersalahkan!
Kau pun tahu. Tak satupun judul entri
di blogku sejauh ini yang menyudutkannya menjadi pokok pikiran. Aku tak mudah
menyakiti, La. Boleh jadi sandiwaraku di kelas selama ini tak pernah
benar-benar melenakanku. Jika kau ingat, aku pernah mengatakannya padamu: “Aku
mungkin tak akan pernah mencintai orang yang kukatakan pada yang lain aku
mencintainnya.”. kau menatapku hening. Tak lama, dan balasanmu menjadi cambuk
untukku yang secara tak sadar mulai lebih dari bisa berpura-pura: “Kau
menghabiskan waktumu untuk tak mau tahu dengan sesuatu yang aku yakin suatu
saat akhirnya akan kau kejar!”. Mulai hari itu, sulit menerima kenyataan jika
Tuhan membuktikan kata-katamu, La. Hanya desau keraguan yang
terkatung-katung—dan aku masih mengatakan: “Tidak!”.
Aku bingung apakah aku sedang
dipermainkan atau mempermainkan. Rasanya denganmu sekarang kurang bisa
membuatku berbuat hal-hal gila semacam dulu. Lima kali sehari aku mengetwitt
betapa bahagiannya keeratan kita—status-status Facebook yang lebih tak berbobot
hanya untuk menunjukan rasa itu ada, lebih-lebih jika kau membuka obrolan kita.
Bahkan aku mulai setengah hati menginterogasimu tentang tuduhan-tuduhanku.
Rasanya denganmu sekarang seperti telur asin tak bergaram. Hambar, dan sama
saja dengan butiran telur biasa lainnya. Tapi rasa bersalah kadang kala
menghampiriku sewaktu-waktu. Bagaimana aku menyambut hampir seluruh dari godaan
yang lain-lain tentang hubunganku dengan dia.... kau terdiam dan berbeda dengan
yang lain, tak tau pasti apakah sejujurnya kau menyimpan kekesalanmu atau maaf,
kau memang tak mudah mendengar. Tak bisakah kau katakan padaku yang sepastinya?
Ya atau tidak. dan aku tak perlu merasa kau permainkan atau menyakitimu.
Tak tau pasti apakah kau mengingatnya
atau lupa, ada yang pernah mengatakan perasaanku secara tak sadar: “Rerasanya
kau malah lebih kelihatan mencintainya, bukan dia.” ‘nya’ itu kamu, La. kau
tahu, betapa aku menngapresiasi lebih tanggapan itu? kau terlalu dekat
denganku. Ribuan prediksi teman-teman tentang diriku dan dia pun seperti tak
pernah ada. Sungguh tak terasa. Seandainya kau lebih mendengarkanku, untuk
berdiri dari diammu, ahh aku lupa dia juga pendiam, tak jauh darimu—tapi yang
kumau hanya kau yang akhirnya bicara. Tentang hatimu yang sesungguhnya. Dan aku
tak perlu menunggu seperti jemuran yang seabad tak terangkat. Panas-dingin,
hujan-badai kulalui percuma.
Dan jika hari ini aku harus
memutuskan, juga menerima keputusan, apapun, sepertinya lebih baik tak memilih
kalian berdua dan melapangkan hatiku atas keputusanmu dan dia. Buat apa
mengejar hal yang menyakiti diriku sendiri? Yeah, itu denganmu. Dan untuk apa
menunggu orang yang tak berani memutuskan? Apa aku harus bertahan, dan mati
menunggu? Well, ini konsekuensi jika aku memilih dia. Hidup terlalu sayang
sekedar dilewatkan dan ditukarkan dengan seonggok cinta masa muda. Hidupku
butuh perjuangan. Hidupku butuh imbalan.
Terima kasih telah singgah di
sampingku, La. walaupun tidak untuk menetap, dan sejujurnya hatiku bukan juga
warung kopi.
Terima kasih telah mengangkatku dari
mimpi buruk, walau akhirnya kau gantungkan juga. Sesungguhnya aku yakin ini
adalah cara Tuhan mengebalkan diriku yang rapuh.
Terima kasih jika esok akhirnya kau
putuskan. Apapun, kau punya asasi untuk itu. Pabila ‘ya’, sungguh tak dapat
kubayangkan bagaimana aku akan melewatinya lebih lama denganmu, aku akan sangat
berbahagia. Semoga. Namun boleh jadi ‘tidak’, dan aku tak ‘kan memaksa atau
melampiaskan diriku dengan hal-hal gila yang mendahului kuasa Tuhan. Cukup
percaya ini adalah cara Tuhan mempersiapkan diriku untuk masa depan yang lebih
baik.
Aku
rapopo.1
1aku tidak apa-apa.
sumber gambar:
ada yang sesuai :D
BalasHapushehehe :D
Hapus