Langsung ke konten utama

La, I Will Survive


La, I Will Survive


/I/

Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang.

/II/

Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau.

/III/

Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyediakan hidup dengan segala kemonotonan pada semua bilik yang bisa kuhidupi. Aku belum menyerah, tapi tidak melanjutkan hidup dengan keputusan. Belum.

/IV/

Sesungguhnya ada yang menyertai penghlihatanku dan perasaanku. Ingatan yang mendiami keduanya. Di mana aku pernah melihat yang membakar keningnya dan aku merasakan panasnya menjalariku. Sekarang, tak ada yang tertinggal dari lintasan ingatan itu. Aku membakar jiwaku dengan luka dan beban kehilangan seorang yang menyebut dirinya sebagai ‘bukan yang tega merusak kebahagiaanku’. Bukan sekedar merasakan.

/V/

Aku pernah mencoba meresapi dan menyelami apa-apa yang telah terjadi, tidak hanya sekali. Menginjak segala ketakutanku akan keputusan dan mengempaskan nyala-nyala tapak kenangan akan kehilangan yang menggilakan. Sungguh, aku mendapati keberanianku hampir saja benar-benar menginjak dan  mengempas dengan ketersungguhan. Namun aku tak lebih baik sebelum ketidakpantasan hidupku kembali menguasai diri dan yang lain-lain bertindak; kamu: La. Jika saja tak ada seunggun api menjolakki jiwa sesaat lebih lama—mata hujan tak akan bertindak jauh lebih cepat seperti sekarang.

/ VI/

La, dan kau bukan saja sebatas mata hujan yang berhasil membantuku memadamkan nyala-nyala tapak kenangan yang berluka dan teramat perih di jiwaku. Tidak untuk menjadi satu-satunya kebetulan yang harus kukejar untuk tetap menjadi penikmat punggungnya. Karena terkadang, waktu tak bisa tinggal lebih lama—dan aku harus memutuskan sendiri apakah aku akan mengikuti segala yang sedang menjadi kenangan, atau tetap bertahan dengan kekuatan yang tak lebih keras dari rapuhan menit-menit.

/VII/

Dan...La, aku mendengar kekuatan yang kau bisikkan di saat yang tepat. Membuatku lebih berani memperhitungkan keputusan. Tapi belum benar-benar memutuskan. Terus kau hujami segala yang hidup pada diriku, dengan semangat yang harus tumbuh sejak saat kau berada di antara kedilemaanku—tanpa ampun. Lalu kau bertanya kembali sudahkah kuputuskan—aku diam. Seolah menginginkan hidupku jalan di tempat lebih lama. Lagi—dan aku melihat betapa tak sedikitpun tersirat kelelahan untuk menyerah pada matamu.  Untuk waktu yang tersisa—sekali lagi—“La, I will survive.” Akhirnya.

/VIII/

... Kulihat sebait senyummu menatihku pada langkah yang  kupilih. Kemudian keberanian membuatku menjawab pertanyaanmu tentang mengapa akhirnya aku memutuskan pada pilihan kedua—tetap bertahan dengan kekuatan yang tak lebih keras dari rapuhan menit-menit. “La, karena keputusan memang berkonsekuensi, tetapi kenangan tidak untuk ditinggali.” Yeah, meski tak kutemui yang seharusnya kembali tak membiarkan ikat pinggangnya merenggang dan kaus kakinya mengusam dengan bau-bau yang begitu neka. Dia yang memutuskan untuk lebih cepat menjadikan dirinya sebuah kenangan, bahkan yang lebih dekat—mericuhi  kebahagiaanku. Dan mungkin saja dia lupa apa yang dia sebut sebagai dirinya dulu.

/IX/

Hari ini, aku bertahan sebagai yang berani memutuskan. Hari ini, kebebasan menyelami didih-didih kegamangan yang memenjarakan. Dan...
Hari ini aku di sini
berjuang untuk bertahan
padamkan luka dan beban yang ada
yang tlah membakar seluruh jiwa
kucoba resapi kucoba selami
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya
rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi

I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
kau berikan kekuatan
untuk lewati semua ini

hari ini kan kupastikan
aku masih ada disini
mencoba lepaskan, coba bebaskan
segala rasa perih di hati
kucoba resapiku, coba hayati
segala yang tlah terjadi
ku ambil hikmahnya, rasakan nikmatnya
dan kucoba untuk hadapi

and I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive
kauberikan kekuatan
'tuk lewati semua ini

Engkau slalu ada
di saat jiwaku rapuh, di kalaku jatuh
and I want you to know
that I will fight to survive,
I will not give up, I will not give in,
I'll stay alive for you... for you... for You...

I will survive, I will revive
I won't surrender and stay alive

I will survive, I will revive
getting stronger to stay alive
kau berikan aku kekuatan
'tuk lewati semua ini

I will survive, I will revive
getting BIGGER... bigger than life
Engkau Yang Esa, Yang Perkasa
You give me reason to survive.

Yogyakarta, 15 Desember 2013

Terinspirasi dari kisah nyata penulis (saya), yang harus kehilangan satu-satunya teman perempuan saya di kelas X TKJ. Tulisan ini pernah diikutkan dalam Sayembara Menulis Berdasarkan Lagu "I Will Survive". 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...