Langsung ke konten utama

Jangan Kau Minta Lagi Hatiku!

JANGAN KAU MINTA LAGI HATIKU!
...
Aku menelan ludah. Kemudian kembali menatap Dio, tersenyum, “Aku tidak pernah tak memaafkanmu.” Sungguh, aku berbohong, pura-pura bijak. “Meski kau pun tahu, kau tidak pernah mengerti mengapa aku harus memaafkanmu, sama halnya dengan aku tidak pernah mengerti mengapa kau dulu meninggalkanku.”
Hening sejenak.
“Maaafkan aku.” Dio menunduk. Bahkan suaranya tak begitu terdengar. Udara di sini seolah menolak Dio berucap sekata pun. Terlalu dingin untuk hati yang sudah teramat beku.
Aku menggeleng, “Semua telah berlalu. Dan kau tidak harus minta maaf. Mungkin benar, cinta adalah kepantasan. Dengan pilihanmu untuk pergi, setidaknya akhirnya aku menyadari, barangkali aku tidak cukup pantas untukmu.”
“Dapatkah kuminta lagi hatimu?” Angin makin menghantam fondasi rumah makan di puncak tebing ini. Bintang belum tampak, hanya bulan sabit malu-malu mengintip di balik permadani jumantara. Menyaksikan Dio yang meminta hatiku kembali. Di sini, semua tentang kami dimulai sekaligus diakhiri.
***
Tujuh bulan silam. Tempat yang sama.
Tetapi dengan waktu dan perasaan yang berbeda. Dio menggandengku keluar dari mobilnya. ”Ahh, aku suka diistimewakan seperti ini.” Begitu pikiriku.
Kami berceracau ria. Hingga perbincangan mulai mengarah pada hal yang selama ini mengendap-endap di hatiku. Sontak mukaku memerah, aku tersipu, lalu menggangguk dengan senyuman. Dio menonjok pipinya. Memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi atas anggukanku yang mengiyakan tawarannya: “Apa kau mau berlanjut denganku di pelaminan?”
Malam itu tampak seakan alam bersorak-gempita. Bagai seribu kembang api raksasa dinyalakan. Ingar-bingar di angkasa.
Ya, malam itu. Tujuh bulan silam.
Dua keluarga usai bertemu. Tanggal pernikahan telah ditentukan. Undangan mulai disebarkan. Segala macam yang diperlukan telah disiapkan.
Satu pekan lagi pernikahan dilangsungkan. Tapi...bisa apa jika Tuhan berkehendak lain? Mau bagaimana, jika kepantasan memang sebuah keharusan dalam cinta? Dalam waktu yang tinggal menghitung hari, Dio memutuskan untuk membatalkan pernikahan.
“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Bukan maksutku untuk mempermainkanmu Sev. Hanya tak mungkin memaksakan hatiku yang terlanjur mencintai orang baru di hidupku. Mungkin ini yang dimaksut cinta pandangan pertama. Pun setelah kupikir-kupir, aku belum siap mendewasakan diriku melebihimu. Aku lebih muda darimu delapan tahun Sev. Aku takut jika nantinya aku hanya memikirkan egoku sendiri. Maafkan aku.”
sumber gambar: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRUL5euHiW0-kHS7q7mQtcnOB5v2DPcnFLMa6dTlV0Gs5TKYPc5
***
“Maaf, aku tak bisa.” Aku menggigit lidah.
”Sulit memang, melepaskanmu begitu saja. Bagaimana mungkin dulu aku tak meninggikan kepatah-patah hatianku atas keputusanmu, jika hubungan kita yang telah bertahun-tahun kau putuskan begitu saja hanya karna cinta yang kau sebut sebagai cinta pandangan pertama itu. Tapi akhirnya aku harus memahami. Cinta adalah kepantasan, rasionalitas, dan harga diri.” Batinku sembari meninggalkan Dio....


Yogyakarta, September 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...