Langsung ke konten utama

Yang Terlalu Jauh

Belum-belum aku terlalu dini untuk merindukanmu. Tanpa jarak sekalipun, bahkan. Sudah kukatakan dua hari yang lalu: ''Kau itu candu.''. Aku tahu ini kalimat yang berlebian untuk ukuran manusia biasa seperti kita, lebih-lebih aku. Tapi sudahlah, jangan bebani aku dengan hal-hal yang tak perlu. Biarkan aku mendefinisikan kamu seperti yang kumau. Karena tak akan lebih mudah jika tak seperti ini. Mungkin rindu ini akan lebih cepat tumpah, dan merentangkan kita.

Empat jam kosong melompong, tak akan pernah mungkin kuperkirakan segala bentuk kebaikan akan mampir. Uh...kamu duduk menyiku bersandar di mushola dengan mata memualkan.:/ Kuhampiri pun seperti lalat yang hinggap di comberan, tak ada respon! Kukeluarkan notulen rapat yang cukup menyibukkan beberapa hari ini. Menggambar bagan pertandingan Class Meeting, sambil lalu sedetak-detik mendaratkan mataku pada yang masih mematung kaku: kamu.

Aku mulai bosan, kutanyai yang lain-lain. Cukup berhasil untuk kepura-puraan tak mengacuhkanmu sedari tadi. Kamu tidak mengenakkan sama sekali! Dibandingkan dengan white coffe-ku pun tak ada tiga per empatnya. Well, aku sedang tidak berbekal white coffe karna alasan kanker (baca: Kantong kering). Huh, pengen sekali rasanya melayangkan sesuap tinju pada yang bersandar di sampingku ini. Benar-benar.

Tapi oh tapi. Kamu itu memang tak bisa diduga. Sama sekali. Setelah melucu dengan teman-teman yang sibuk menghati-hatikan pertandingan melawan X Otomotif--setelah berbagai semangat kami sembur-semburkan untuk mereka, well, kami itu aku dan satu-satunya temen cewekku di kelas, yeah--ada yang berbisik? Aku salah dengar?

''Online terus.''
Bagaimana jantungku benar-benar masih cukup baik untuk memutar kepala ke arah kanan. Huh. ''Hemm..'' yes, aku berhasil menyulitkan yang lain-lain--yang di hatimu, mungkin. :p

Tak sadar aku mulai kelepasan cuek, setelah hampir berpuluh-puluh menit kamu tak lagi bersandar di dinding beku itu. Well, kamu sedekat ini, dan aku merasa harus mewaspadai hatiku. ''Jangan anggap apa-apa ini Yul. Mungkin dia sedang bosan.'' Pikiran menyebalkan sekali.

Kamu melayangkan satu -dua-tiga yang harus kubimbangkan. Apa? Aku tak mau memvulgarkan ini. Bukan apa-apa sebenarnya. Sampai mendarat di salah kronologi yang benar-benar berpenampilan manis--oh, aku bahkan harus tutup mata. Kukuatkan hatiku untuk tidak menjerit dan menulikan telinga-telinga yang mengitariku, dan satu ini...jantungku bahkan harus kutekan agar tak lari keluar saking tak tertahankannya; pembunuhan perasaan gitu.

''Manis sekali.'' aku meyakinkannya. ''Hemm. Biar.'' Kamu seperti tak ingin melukaiku. Tapi tetap saja, kamu senyum melihatku menekan-nekan jantungku sendiri. Untunglah untung, mushola mengalunkan adzan dari salah suara pria yang memesona, ohh... Kututp leppy dan beralasan ingin sholat (hah, ini maksa sekali, belum ada yang bersiap-siap bahkan. Biasanya kan akhir-akhir).

Saat telah sampai pada yang tak menyediakanmu, aku bersyukur sesyukurnya. Dina bahkan sampai terpeleset menertawaiku. Sialan! ''Kamu sih, pinter ngebunuh hati sendiri!'' Lho, lho ini anak malah pengen kugampar. Suitlah kami, seperti biasa, saat yang lain-lain membuat salah dari kami kesal. Cukup menenangkan.

sumber gambar: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRTXDL4uBSnCBosqY15vElpvpQOZkCYFbJAIcnMr_gknEGyUyZtQA

Well, hari ini mungkin aku menyukai keeratan kita yang bahkan bisa diduga-duga oleh yang lain. Kita lebih dari biasanya, em...maksutku lebih bersahabat. Yeah. Tapi aku sadar sekali, hati kita tak pernah seerat tawamu di telapakku tadi. Tidak pernah! Tak ada hari yang mendekatkan hati kita, belum atau tidak. :( Cukup jauh, dari tempat yang bisa menyatukan. Terlalu jauh...

Yogyakarta, 3 Desember 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...