Langsung ke konten utama

Suara Desember

Selamat malam Desember Ke-6-ku,

Pada jarak kita bersua. Pada jarak kita mengalahkan keraguan. Dan pada jarak kita menciptakan kerinduan. Satu lagi, pada white kopi aku menceracaukan segala bentuk perasaan. Apa-apaan?

Aku terlalu sering menggunakan white kopiku sebagai prolog ceracau-ceracau labilku ini. Well, dia paling karib. Jadi tak pernah kepingin mengalpakannya begitu saja. Yang lain-lain, jadi lebih purnama dengannya. Termasuk suara di seberang...

Malam ini aku tak sempat membuka tirai merah di sampingku ini. Purna atau pun sabit, terserah. Aku tak pernah suka keduanya tanpa gegara yang mampu menambah nilai plus untuk sesatunya. Hey, aku tidak pandai-pandai berbohong menjadi orang telaten penyuka hal-hal ganjil atau kecil yang dapat dikatakan tak masuk akal, atau sangat wajar tak diacuhkan manusia biasa. Terlalu dramatis, dan aku jarang sekali sebegitunya agar kentara unik atau apalah. Aku suka yang bisa membuatku geli atau tertawa--juga tentang suara yang membuatku salah urat ini.

sumber smber: http://cara.segiempat.com/wp-content/uploads/2013/03/Cara-Menghadapi-Rasa-Rindu-Pada-Kekasih-pada-Hubungan-LDR-oleh-SegiEmpat.jpg Mungkin aku terlalu rindu dengan yang begini-begini. Kamu melakukannya hampir tiga tahun yang lalu. Saat perdana ** menawarkan 30 detik gratis ngobrol, saat kita bicara dengan berjaga-jaga...pada waktu :D, saat aku melakukannya dengan ketersembunyian yang paling rapat, dan saat aku tak berani menerimanya di depan sanak keluarga. Uhh dalemnya... Sekarang, yeah sekarang, ternyata aku mulai bisa mengalahkan kecanggunganku lho, apa-apa yang harus kuterus-terangkan pada keluarga juga sudah kukatakan tanpa penyuntingan di sisi mana pun. Kamu tahu apa reaksi bapak?

It's no problem, La. Kamu tak perlu lagi memikirkan bagaimana cara untuk menemuiku di depan mereka. Kurasa mereka akhirnya tersindir dengan Pernah Mudanya-BCL yang terlalu sering kulekatkan pada Winamp dengan volume sekeras mungkin. Hehe... Ini cuma salah satu poin merayu yang paling akut. Yang lain-lain...tak usahlah kau tahu.

Sekarang, usai mencumbui Pengetahuan Alam, aku benar-benar merasa perlu menemuimu secepat mungkin. Bukan pada kewajaran waktu tercepat yang disediakan keadaan. Bukan! Untuk apa? Tanyakan saja pada hatimu. Dia tak berkata-kata? Temui aku! :D

Aku tak pernah tahu kamu merasakan siksaan hukum-hukum perasaan manapun yang menggentayangi. Tak tahu kamu merasa bahwa yang kau erati mendambakan lebih tentangmu. Tidak pernah, La. Aku juga tak pernah berusaha untuk tahu. Well, aku masih berjaga-jaga di mana pun aku bersamamu. Mewaspadai segala bentuk curahanmu. Aku terlalu sering menjadi korban penipuan harapan. Oh, well ini memualkan. Dan aku mengahati-hatikan kesemuanya untuk menimbang-nimbang kepastian. Jangan-jangan, aku bukanlah satu-satunya yang menerima sepotong keambiguan perasaan atau malah pilihan di kebosanan. >_<



Aku selalu tak berhasil memikirkan konsekuensi akibat kecanduanku pada kesemuamu. Aku terlau meninggikan segala bentuk keyakinanku, hal-hal yang kau yakinkan, dan seuatu yang sempat kita katakan. Ahh sebut saja inisiatif bodoh bersama untuk mengakali keadaan.

Oh well, aku terlalu tajam menikung dari judul yang lanjur kusematkan. Tidak ada niat untuk merubahnya, dan biarkan postingan ini menjadi ceracau mentah yang amat sangat labil nan akut. Uhhh biarlah....


Yogyakarta, 6 Desember 2013
21.08 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Aku Rapopo

Aku Rapopo           Haruskah diam lebih lama? Menunggu keraguan semakin berdetak pada hidupku? Hanya untuk satu-satunya jalan menyakiti diri sendiri. Aish, buat apa mendinginkan orang yang jelas-jelas membakar kepalanya sendiri? Buat apa mengorbankan seperempat dari usia sekedar untuk menyetiakan cinta—pada seseorang yang sebenarnya memang belum tepat untuk kita? Aku tahu sebagaimana cinta sejujurnya harus berpikir. Adalah apa yang mampu aku lakukan untuk cinta, bukan sebaliknya. Tapi caramu memaksakan semuanya terlalu memengaruhi keputusanku akhir-akhir ini. Dengan siapa selazimnya aku bertahan? Kamu yang kelu atau dia yang kuakui nyaris menggambil sepotong hatiku sekarang?.            Sekali. Dua kali. Menginvestigasikannya berdua denganmu terkadang masih cukup menenangkanku. Entah aku membual apa pun agar kau akhirnya menganggap aku ada. Semacam terlalu memaksakan, dan kuakui aku t...