Untuk hati yang tak bisa
bermunafik lebih lama—persahabatan, cinta, seolah keduanya tak lagi memiliki
batasan yang cukup nyata.
Aku
mengilhami hari ini, sebagai yang mampu memberikan dua kebahagiaan dalam waktu
yang sama. Pertama, kebersamaan begitu mampu menghanyutkan air mata dari sebuah
kekalahan. Kedua, yang meninggi—tak lebih dari 20 Cm dari pangkal ubunku, juga
tak kurang. Ahh, seberapa kesalnya aku pada waktu sepagi buta itu. Seakan tak
terjadi apapun sebelumnya, dan aku mengiyakan bagaimana pun bentuk respectmu.
Konsekuensi menunggu yang indah.
Awalnya,
saat sebut saja Ma—melambai, sementara papan skor pertandingan Voli masih
kudekap entah dengan ketidaksabaran atau rasa dingin yang sungguh
aduhai—bukannya membalas lambaian itu, aku malah mengobsesikan mataku untuk
mendapatimu. Ini bagian yang membuatku harus repot-repot minta maaf pada Ma. Untung
dia bukan orang yang pelit maaf.
Untuk
hati yang tak bisa lebih lama berdetik mendetaki jantung—aish, aku nyaris
dikatakan berlari. Sebentar, saat
menulis ini, aku sedang membaca sesuatu di kronologi Facebook-mu
yang...sudahlah, mataku nyeri. Tapi mengingat kejadian di lapangan bola samping
sekolah tadi, aku bahkan lupa dengan yang namanya filosofi bohong. What’s? Yeah,
kamu menghangatkan pukul 10.35 WIB dini hari. Aku yakin ini pembodohan
pendirian diri sendiri tingkat dua di bagian filosofi bohongku. Pertama, aku
melupakan cara menjual mahalkan senyum padamu. Kedua, aku melupakan mataku yang
seharusnya pantang mendiamimu lebih dari
skala fokus ternormal. uwow
Dan
La, sejak saat kamu meminta atau tidak adanya aku saat itu—lebih-lebih menjadi
semangat—sebagai karibmu, aku tahu bahagia itu lebih sederhana setelah bahagia
versi postingan keberapa pun di blog ini. Bahagia itu saat aku bisa memataimu. Menjadikanmu
fokus terhebat dalam retinaku. Saat-saat kau begitu cemerlang—dan aku suka
segalanya. Aku tahu bahagia itu tak melulu menjadi yang paling kamu cintai. Bahagia
itu saat kamu mampu merespect bentuk usahaku untuk mensuportmu. Tidak lebih
anggun dari yang kau elu-elukan—yeah, kakak cantik itu. ahh La, meski aku harus
memperpura lidahku untuk tidak menumpahkan kebahagiaanku saat itu di depan yang
lain-lain...aku sengaja mempersebalkanmu, cara bermainmu, dan itu semata bentuk
ketidakberlebih-lebihanku, kalau pun masih dalam taraf hitungan wajar.
Walaupun
pada titik terakhir yang membawamu kembali tanpa satu goal pun...aku tak kecewa
J, kamu tak perlu
menambah satupun skor untuk menjadi Top Skor, sejak aku diam-diam merasa kamu
bukan orang yang pantas menjadi hanya sebatas temanku, kamu adalah pemain
terhebat di mataku :D, cieh...cieh...cieh
Well,
bagian terindah adalah saat lelah tak sedikitpun melunturkan yang kusukai
darimu, bukan tanpan, gagah, sispek apalagi :p. Dan sekarang...La, aku tak akan
pernah meminta menjadi satu-satunya orang yang paling kau cintai. Jika tak kau
sisihkan sedikitpun juga. Aku merasa bersamamu sudah cukup membuatku
menyederhanakan definisi bahagia. Berbagi denganmu sudah cukup membantuku
melalui masa terkritis dalam apapun. Persahabatan, cinta, dan cita. Terima kasih La :).
Yogyakarta, —Desember 2013
Komentar
Posting Komentar
Setiap komentar adalah apresiasi. Terima Kasih