Langsung ke konten utama

Ukuran Kehilangan Yang Seberapa?



Gerimis sore ini membuat white coffe-ku makin penuh pukau. Sembari ditemani Mr.Cul yang mendengkur gegara proposal yang (hampir) selesai. Senang rasanya merasakan kesibukan yang tak mau hengkang dari hari ke hari. Ternyata bahagia itu sederhana ya. Sesederhana sajian white coffe-ku sore ini. :)

Tak terasa, Desember muda menyajikan kenyataan-kenyataan yang berbeda. Sekiranya belumlah pernah menjadiiku sebelum-sebelumnya. Tak tersangka pula, Desember muda menyajikan pembaharuan semacam transformer yang mau tidak mau harus diterima. Well, bukan aku yang berubah menjadi vampir maupun dhampir ya. Itu keinginan terkonyol untuk sebuah alasan yang benjol di bagian kewarasannya. :p

Salah satu sajian Desember muda adalah...perpisahan...kehilangan...dan yang menyenangi usahlah kusebutkan. Kehilangan adalah hal yang sudah pasti akan dijarahi makhluk petinggi ego dan ambisi seperti manusia. Oh well, maksutku itu kriteria yang sekiranya melekat pada kemanusiaanku. Egois, ambisius, dan yang lain-lain.

Siapa yang mengira Rabu lalu adalah hari terakhir segala cecurahku akan mendarat di telinga satu-satunya teman cewekku di kelas ini. Siapa sangka Kamis sampai hari ini tak mau menyajikannya lagi? Siapa kira? Aku masih belum cukup untuk sepenuhnya realistis. Aku merasakan ini terlalu kurang merata untuk ukuran kebahagiaanku dengan perbandingan yang lain-lain. Oh maksutku, aku merasa bahagiaku cepat sekali terusik, terusak.

Hari ini aku masih cukup kuat menekan-nekan jantungku sendiri hanya untuk tidak mericuhi ruang UAS di mapel Penjas OR dengan kecemburuanku, oh, terlalu konotasi! Melihat sajian di seberang yang sedang sama menyiku di satu bangku, oh God...terlalu dekat. Yeah, aku masih cukup tahan. Tapi untuk ingatan yang satu ini...aku tak benar-benar bisa mendiamkan hatiku, tidak benar-benar.

Untuk ukuran kehilangan yang seberapa? Aku merasa ini taraf yang melebihi seorang sahabat. Yeah, kamu tahu Din, aku mungkin masih tidak akan separah ini jika harus melepas La. Tapi kamu? Untuk tentang kamu? Tidak Din! Tak semudah menyeduh white coffe-ku. Kamu tahu?

Harus dengan cara apa untuk melapangi kepergianmu? Jujur aku marah, kesal, dan segala bentuk kecewa ini tidak dapat kutlis juga di sini...denganmu! Kamu menegaiku dengan tak bertanggung jawab pada persahabatan kita. Kamu tahu itu sudah amat mericuhi kebahagiaanku? Oh well, kamu lupa janjimu? ''Aku tidak akan benar-benar bisa merusak kebahagiaanmu, Yul.''

Omong kosong! Ya Tuha...mungkin aku tampak seperti cewek malang yang ditinggalkan pria tiga kali dalam tiga hari. Yeah, kamu tahu aku sekarang? Kamu tahu aku bersama siapa? Orang yang salah? Tidak cukup baik-baik? Ah...mana kamu peduli.

Tapi sudahlah. Kamu benar, ini asasimu. Aku saja yang seharusnya belajar menghilangkan segala bentuk rasa kehilangan yang berlebihan. Aku saja yang seharusnya mempersiapkan kehidupan baru yang tak akan lagi menyajikanmu. Begitu.

Dear Dina, Adina Utami, teman yang tega sekali (maaf) meninggalkanku dengan keputusan yang kurang etis di mata siapa pun orang yang menyayanginya, jika kamu membaca ceracau labilku yang biasanya menyajikan kelabilan abg dengan topik utama si La, aku hanya ingin mengucapkan sedikit pesan atau sebut saja apapun yang kausenangi!

''Kamu tahu, aku tidak merasa baik-baik saja dengan keputusanmu? Tapi well, oke. Aku masih akan terus belajar melupakan kehilangan. Berbahagialah dengan keputusanmu--yang menitikkan air mata ibumu sekalipun ini. Baik-baik!''

Yogyakarta, 9 Desember 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...