Langsung ke konten utama

Mangkuawan, Kelud....

Bumiku abu-kelu
Pada sejauh mata berdetik
Memijar-pijar di kekubangan awan
Berkisah dengan langit

Bumiku mabuk-hiruk
Manakala mawas mengudara
Memalamkan 'Wage'
Debam-debam

Hujan abu menyubuhi pagi
Jawa tenggelam-kelam
Sampai dua rakaat sunah
Mangkuawan, Kelud....

Mangkuawan, Kelud....
Membasuh hati-hati
Dedoa hujam tiada peri
Kalau sudah begini?


yogyakarta, 14 Februari 2014

Komentar

  1. wah.. gunung kelud..
    kebetulan banget aku di Kediri..
    sangat menyisakan seribu kenangan dengan kelud yang kini telah muntah.. semoga diberi ketabahan bagi para korbannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamin. kudengar di Kediri jua terkena hujan abu ya? semoga semuanya ada hikmahnya. :)

      Hapus
  2. wahh ternyata dibalik bencana ada berkah... buktinya ini dibalik bencana ada karya :))

    http://fandhyachmadromadhon.blogspot.com/2014/01/ketika-gempa-terjadi.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. :) terima kasih. terus berkarya teman. terima kasih kunjungannya.

      Hapus

Posting Komentar

Setiap komentar adalah apresiasi. Terima Kasih

Postingan populer dari blog ini

Awal Maret

Pekik sudah aku mengekalkan hatiku Mengempaskan gaduh-setubuh Meringkukkan dupa-duka Sendiri memeluk namamu Pekik aku hambai rekah-belah senyummu Dalam kekosongan hati Kunamai itu perkasa Sejauh butaku mengebal sudah, bebal! Seketika hampir tak usai detik tanpamu Aku mengaku kelu tak bertemu Dan, atas nama hati yang kabut Hidupku lanjur berdetak pada hadirmu Tetapi segalanya mendetik serah sekarang Bebalku berselaksa di daun pagi Merayapi embunmu demikian jauh Menemui dedusta muka-rimbamu Pekik paling kuhambarkan debam-lebam —sudah  saga Yogyakarta, 4 Maret 2014 *tulisan ini lebih dulu dipublikasikan dalam mading sekolah "KEPO"

Bunga dan Cinta

Telah Terbit!!! Judul : Bunga dan Cinta Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Penerbit : Panji Publishing ISBN 978-602-13015-38-1 Tebal : vi 167 hlm ; 14.6 x 21 cm Sinopsis ...Aku berjalan entah untuk siapa. Untukku? Untuknya? Untuk cinta kami? Atau untuk orang-orang dekatku yang menanti hari ini? Aku tahu, aku sedang menjadi pusat saat ini. Benar-benar pusat. Tapi aku seolah terasingkan oleh pikiranku sendiri.... Yuli Listiyana-Dormansi Cinta dan Desemberku *** Kontributor: AL-FIAN DIPPAHATANG | ALI REZA | ALIFAH RAMADHANI | AMELIA ASTRI RISKAPUTRI| AMY EL-FASA | ANA ANGGRAINI | ARIEF MULYANTO | ARINDA SHAFA| ATIKA CAHYA NINGRUM | ATIKA RAHMA F | AYYU RIEN | CUMIL CH | DIAN AMBARWATI | DIANA PUTRI | FITRIA EVA MARTINA | ICA NOVIANTY| IFTAH HD | INDAH LESTARI |INDRIANI LESTARI | IRFANY MUTHIA RAHMAH | IRZAMI HAWA | JAY WIJAYANTI | JULIE VOLDY | JUSTANG | KURNIA LAELASARI| LINDA ARMITASARI | LUTFI FAUZIAH | MAULANI | MEEZA | MUHRODIN AM | MUTHIIMUTH | NAJWA EVITA | NIS...

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...