Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Terima Kasih La...

                                 Untuk hati yang tak bisa bermunafik lebih lama—persahabatan, cinta, seolah keduanya tak lagi memiliki batasan yang cukup nyata.                 Aku mengilhami hari ini, sebagai yang mampu memberikan dua kebahagiaan dalam waktu yang sama. Pertama, kebersamaan begitu mampu menghanyutkan air mata dari sebuah kekalahan. Kedua, yang meninggi—tak lebih dari 20 Cm dari pangkal ubunku, juga tak kurang. Ahh, seberapa kesalnya aku pada waktu sepagi buta itu. Seakan tak terjadi apapun sebelumnya, dan aku mengiyakan bagaimana pun bentuk respectmu. Konsekuensi menunggu yang indah.                 Awalnya, saat sebut saja Ma—melambai, sementara papan skor pertandingan Voli masih kudekap entah dengan ketidaksabaran atau rasa ...

La, I Will Survive

La, I Will Survive /I/ Tentang satu hal aku tak benar-benar bisa mengikisi ribuan kobar pijakan di jiwa yang penuh kenang. Apakah aku akan mencumbui udara yang memenuhi keironisan waktu? Alasan mengapa aku begitu yakin sedang melakukannya sekarang. /II/ Untuk hari yang penuh tuba pada seembus bagi nadiku—yang detak-detiknya masih mengalunkan rasa kehilangan yang lebih nyaring dari gema-gema tak bernama. Pada dinding tak beratap dengan seribu kobar pijakan yang tak usai kukikisi, sampai menit terakhir sebelum mata hujan yang akhirnya bertindak. Aku masih bernapas menunggu menit terkeji di bulan ini menyerah dan sekali lagi berputar satu lingkaran penuh ke belakang, atau berserah dan mengindahkan gema-gema dari kebisuan di tempat ini untuk memurbakannya; yang kumau. /III/ Kudengar dari segala macam yang hidup pada diriku: aku hidup untuk takut pada keputusan. Hingga sulit menerima bahwa sesungguhnya aku tak pantas hidup. Jelas-jelas Tuhan tak pernah menyedi...

Diskusi : La, I Will Survive - Inspirasi.co

Mampir yuk, dan baca coretanku ini: Diskusi : La, I Will Survive - Inspirasi.co jangan lupa tinggalkan komentar atau like-nya ya ;)

Ukuran Kehilangan Yang Seberapa?

Gerimis sore ini membuat white coffe-ku makin penuh pukau. Sembari ditemani Mr.Cul yang mendengkur gegara proposal yang (hampir) selesai. Senang rasanya merasakan kesibukan yang tak mau hengkang dari hari ke hari. Ternyata bahagia itu sederhana ya. Sesederhana sajian white coffe-ku sore ini. :) Tak terasa, Desember muda menyajikan kenyataan-kenyataan yang berbeda. Sekiranya belumlah pernah menjadiiku sebelum-sebelumnya. Tak tersangka pula, Desember muda menyajikan pembaharuan semacam transformer yang mau tidak mau harus diterima. Well, bukan aku yang berubah menjadi vampir maupun dhampir ya. Itu keinginan terkonyol untuk sebuah alasan yang benjol di bagian kewarasannya. :p Salah satu sajian Desember muda adalah...perpisahan...kehilangan...dan yang menyenangi usahlah kusebutkan. Kehilangan adalah hal yang sudah pasti akan dijarahi makhluk petinggi ego dan ambisi seperti manusia. Oh well, maksutku itu kriteria yang sekiranya melekat pada kemanusiaanku. Egois, ambisius, dan yang ...

Yang Terlalu Jauh

Belum-belum aku terlalu dini untuk merindukanmu. Tanpa jarak sekalipun, bahkan. Sudah kukatakan dua hari yang lalu: ''Kau itu candu.''. Aku tahu ini kalimat yang berlebian untuk ukuran manusia biasa seperti kita, lebih-lebih aku. Tapi sudahlah, jangan bebani aku dengan hal-hal yang tak perlu. Biarkan aku mendefinisikan kamu seperti yang kumau. Karena tak akan lebih mudah jika tak seperti ini. Mungkin rindu ini akan lebih cepat tumpah, dan merentangkan kita. Empat jam kosong melompong, tak akan pernah mungkin kuperkirakan segala bentuk kebaikan akan mampir. Uh...kamu duduk menyiku bersandar di mushola dengan mata memualkan.:/ Kuhampiri pun seperti lalat yang hinggap di comberan, tak ada respon! Kukeluarkan notulen rapat yang cukup menyibukkan beberapa hari ini. Menggambar bagan pertandingan Class Meeting, sambil lalu sedetak-detik mendaratkan mataku pada yang masih mematung kaku: kamu. Aku mulai bosan, kutanyai yang lain-lain. Cukup berhasil untuk kepura-puraan tak ...

Suara Desember

Selamat malam Desember Ke-6-ku, Pada jarak kita bersua. Pada jarak kita mengalahkan keraguan. Dan pada jarak kita menciptakan kerinduan. Satu lagi, pada white kopi aku menceracaukan segala bentuk perasaan. Apa-apaan? Aku terlalu sering menggunakan white kopiku sebagai prolog ceracau-ceracau labilku ini. Well, dia paling karib. Jadi tak pernah kepingin mengalpakannya begitu saja. Yang lain-lain, jadi lebih purnama dengannya. Termasuk suara di seberang... Malam ini aku tak sempat membuka tirai merah di sampingku ini. Purna atau pun sabit, terserah. Aku tak pernah suka keduanya tanpa gegara yang mampu menambah nilai plus untuk sesatunya. Hey, aku tidak pandai-pandai berbohong menjadi orang telaten penyuka hal-hal ganjil atau kecil yang dapat dikatakan tak masuk akal, atau sangat wajar tak diacuhkan manusia biasa. Terlalu dramatis, dan aku jarang sekali sebegitunya agar kentara unik atau apalah. Aku suka yang bisa membuatku geli atau tertawa--juga tentang suara yang membuatku salah ...

Jangan Kau Minta Lagi Hatiku!

JANGAN KAU MINTA LAGI HATIKU! ... Aku menelan ludah. Kemudian kembali menatap Dio, tersenyum, “Aku tidak pernah tak memaafkanmu.” Sungguh, aku berbohong, pura-pura bijak. “Meski kau pun tahu, kau tidak pernah mengerti mengapa aku harus memaafkanmu, sama halnya dengan aku tidak pernah mengerti mengapa kau dulu meninggalkanku.” Hening sejenak. “Maaafkan aku.” Dio menunduk. Bahkan suaranya tak begitu terdengar. Udara di sini seolah menolak Dio berucap sekata pun. Terlalu dingin untuk hati yang sudah teramat beku. Aku menggeleng, “Semua telah berlalu. Dan kau tidak harus minta maaf. Mungkin benar, cinta adalah kepantasan. Dengan pilihanmu untuk pergi, setidaknya akhirnya aku menyadari, barangkali aku tidak cukup pantas untukmu.” “Dapatkah kuminta lagi hatimu?” Angin makin menghantam fondasi rumah makan di puncak tebing ini. Bintang belum tampak, hanya bulan sabit malu-malu mengintip di balik permadani jumantara. Menyaksikan Dio yang meminta hatiku kembali. Di sini, semua tentang kam...

Teruntuk Calon Imamku

Telah Terbit Judul Buku : Teruntuk Calon Imamku  Penulis : Lita Maisyarah Dechy, Gemintang Halimatussa’dia h, Ulin Nurviana, Khoiriyah Arrahmah, Rischa, Adinda Aisyah, Suci Widyasari, Achmaroh, Yuli Listiyana, dkk. Harga : Rp. 35.000 (Belum termasuk ongkos kirim) Pemesanan : Via inbox fb atau sms 085624070744   Karyaku berjudul "Warkat Untuk Calon Imam-ku" dapat dinikmati di buku ini Buat calon imam-ku Kamar tidurku, saat hujan berfoya selepas dua rakaat malam... 17, Juni 2012 Bismillahhirrahmannirrahim... Assalamu’alaikum wahai engkau calon imam-ku, berlimpah kasih Allah menyertaimu. Pun semoga restu-Nya mengaitkan kita kelak. Dalam senandung ayat-ayat suci-Nya, yang ‘kan menggubah recup-recup amora—biar jadi lentera cinta purnama.... TIM PENULIS : Lita Maisyarah Dechy, Gemintang Halimatussa’dia h, Ulin Nurviana, Khoiriyah Arrahmah, Rischa, Adinda Aisyah, Suci Widyasari, Achmaroh, Yuli Listiyana, Yeyen Janatul I’liyin, Wahyu Luthfillah, Uni...

Selamat Sore Desember ke-2-ku, Aku Makin Candu

Selamat sore Desember ke-2-ku... Masih dengan segelas white kopi yang sengaja takaran gulanya kuperbanyak, dan Si lepi yang mulai mendengkur--jadi teringat eratnya 60 menit yang terasa hanya seperti sepuluh detik tadi. :) Hari ini menyisakan bayang-bayang yang tak mau ditinggalkan. Untuk tentang keduanya sekalipun. Aku mengkhawatirkan hari ini. Mungkin aku tak cukup yakin akan kedua hati mereka...ahh kau dan kau maksutku. Tapi aku tetap khawatir! Kalian seperti bekerja sama untuk melumpuhkanku. (gila, ini gila) Awalnya, aku mengira hari ini akan sangat membosankan--mengingat omel-omelmu Sabtu lalu. Oke, sekarang bagianmu dulu (la). Pagi tadi aku tidak melihat sinyal bersahabat di matamu. Ini membuatku memilih menghindar dan melucu dengan yang lain-lain (tidak termasuk kau; ma). Untuk sekedar bertanya bagaimana Weekend-mu pun aku benar-benar takut kau makin bersungut-sungut sepagi tadi. Well, aku bahkan tak mencemburui yang lain-lain di sampingmu. Terlalu takut! Hingga ampa...

Antologi 135 Puisi Romantis, Cinta dalam Empat Dimensi

Telah terbit: Judul : Penulis : Yuli Listiyana, dkk. Hal : xiv + 176. ISBN : 976-602-14178-0 -5 Penerbit : PEDAS PUBLISHING Cetakan: Pertama tahun 2013 Note: Untuk pemesanan inboks Penulis Dan Sastra Order yuk! Puisiku berjudul ''Berjolak Seunggun Rindu'' dapat dinikmati di buku ini. Berikut cuplikannya: Dimensi IV- Cinta dan Api Berjolak Seunggun Rindu -Yuli Listiyana- Makin anglong mulut ganyut Kendati rindu terelak jarak Sampai waktu terunggun padu Dijarah lara menyala raya Meraja gamang bersimbah arang Asap rerindu berfoya satu Terus mengepul bertambah gundah Nyala kekar mengadu pilu ... Yuk buruan diorder! Cara pembelian: Inbox Penulis Dan Sastra atau sms ke 081210641674 dengan format: Nama, alamat, jumlah pesanan.

Selamat Datang Desember-ku; Kamu. Semoga Tanpamu!

Pagi ini tak ada yang lebih menyengat dari ingatan, kecuali November yang tanpa sadar telah angkat kaki dari tahun 2013 yang suka-cita. Aku terlalu memikirkan bagaimana aku akan bisa menjalaninya denganmu--dengan kecintaan yang menyimpang dari awal yang meski tanpa perjanjian. Rerasanya ada pengkhianat di sini. Bersama kita. Dan itu aku. Setelah mendampingi sendiri jatuh-bangunnya semangat hidupku kala lalu, kala tidak terwujudnya tekad besarku. Kala jalan-jalan di keterpurukan kuterjali seonggok diri. Argh...dan itu sulit sekali penempatannya antara diingat dan dilupakan. Namun dekat-dekat ini, lihatlah! Aku tak sendiri, hey. Aku bersama sepasang tangan Desember. Aku bersama orang yang seharusnya kuhindari;kamu! Bagaimana mungkin aku tak menyebut diriku dengan semua sesumpah yang patut? Bagaimana aku bisa menerima hukum alam, mitos, atau mungkin adat yang terlalu umum nan menggelikan? Saat yang berhasil menggenggamku bukanlah orang yang sesungguhnya wajar kuterima. Orang yang...

PUISI-Kasih Bersekat

KASIH BERSEKAT oleh Yuli Listiyana Malam melambai Deru rindu mengikis kalbu Tak ubahnya dikejar goda Tiada dua Jarak menyekat mata Bertanam kasih menggelora Tiada pupus Cinta mengganda Angin mengurai Tawa terikat Rindu melekat erat Kasih bersekat Ingin kupeluk Memagut hati Lepas ikat tawa Sayang, harus menunggu Adakah engkau meratap malam Sama jua terkikis rindu Mimpi jumpa bersayang-sayang Sayang saja harus menunggu Segala tabah, menanti pagi Harap bulan tak berkhianat Pinta bintang tiada tuba Janjikan engkau jumpa 18 Maret 2013

Puisi-Kau Padamkan Lentera Amor

Kau Padamkan Lentera Amor Oleh: Yuli Listiyana Lembayung syamsu mengait biru Lara menitis ranggas serunai Kuntum bintang meronta Bengis bulan bertuba Alam murka Ini gelap menjerembakan Oleh buah padam lentera Secawan kasih kau sepai Tali atma kau cerai Tanpa sejumput belas seringai Jubah putih memerah Lumur kasih bersimbah Separang murtad mengurutnya Ditebas buah cintanya Dengan air kuyup menggedor Kau padamkan lentera amor Sungguh geruh seonggok nadi Terkulai hampa disaksi cemani Busuk lakon picikmu Penuh hujah terpalu Hey, dia ibumu! Yogyakarta, 13 April 2013

Puisi-Akulah Roh Penantian Cintamu

Dengarkan apa-apa yang kau jangkau dari cecuapku Wahai yang sedang kucinta walau menakjubinya Aku tak pergi dari kebungkukkan diri menantimu Tetapi tak tuju pada laku perindu Sebab aku berlabuh, yang tiada menambatku Kemarin, kudengar hatimu tak teringinkan Karenanya engkau membuta piarakan cinta Bergidik pada tulusku Tetapi cinta, yang paling buatku sangat kamu Karena sekat pembatas apa yang tiada ditembus oleh cinta? Dan segala geli dan jijik bagaimana yang dirasa oleh cinta? Lalu engkau, yang cintanya demikian perwira, Kepada belaian tembang luka-luka, jua dia Di gelagat dada, engkau perwira, perwiralah Terjali lagi segala keras-kaku pertahanannya Tahan sesebab mual-mual sabarmu Yang dengan dia, janganlah kau muntahkan Kemudian buang pandangmu padaku Karena sampaimu pada saat di kekubangan jiwaku, Kepatah-patah-hatianku, Tetungguku, dan harap-harap berpulangmu; aku Menjadi roh penantian lama-se-lama-nya Memusarai kamu Yogyakarta, 24 Agustus 2013 By Yul...